Tuesday, May 20, 2008

“kerja di mana?” “di biro iklan.” “ooo… spt yang suka di pinggir jalan ‘Biro Iklan - pasang iklan baris di Kompas’ gt?”


O yeah! Kayaknya bisnis periklanan itu adalah salah satu jenis bisnis yang gak familier di khalayak awam.
Bbrp hari lalu, gue & suami gue ketawa-ketiwi ngebahas beberapa ke-salah-kaprah-an org2 terhadap bisnis periklanan.
Misalnya yang spt di judul, ada seorang mahasiswa yg magang di sebuah agency periklanan. Temannya yang jg mahasiswa (tapi bukan jurusan komunikasi) nanya doi magang di mana. Trus ya itu, si teman mengira bahwa biro iklan itu yang suka beli space utk pasang iklan baris.
Suatu hari tante gue nelp ke rmh pas wiken dlm rangka mengundang arisan keluarga. Trus si tante berbasa-basi “Pronky ke mana?”, “lagi syuting, tante”, trus dia yang takjub gitu “ooohhh, Pronky bintang sinetron??” (catatan: kita udh brp kali bilang kl kita kerjanya di periklanan). “nggak tante, dia yang bikin iklannya.”
Temen band-nya Pronky jg sama. “latian ya sabtu besok pronk.” “gue gak bisa, ada syuting”, “hah? Film ato sinetron? Lu tuh aktor ya?” --> hmhmhm... apa kita harus ngejawab ”lagi ada supervisi syuting iklan” --> koq panjang ya...
Gue sendiri punya beberapa pengalaman bodoh bukti keawaman gue wkt baru2 masuk agency. Gue sempet takjub ngeliat anak-anak muda bertitel ”art director”, wahhh... gue pikir kecil2 gitu udah jadi direktur... hihihi...
Trus di hari yang lain, gue nyariin seorang anak kreatif, gue nanya ke temennya. ”eh, si anu lg kemana ya?” dijawab ama si temen ”dia lagi online”. Trus gue celingak-celinguk nyariin di meja-nya yang kosong. ”mana? Koq gak ada?” trus si anak kreatif cekikikan ”online itu final editing iklan tv di post house”... oooo
Ada lagi yg salah kaprah mengenai istilah ’advertising’. Kl jawabnya ”kerja di advertising.” ”oo... yang bikin billboard, umbul-umbul, spanduk gitu? Gue sering ngeliat plangnya di pinggir jalan”  dikiranya advertising itu supplier cetak materi2 tsb.
Trus dulu itu (ampe skrg kali ya), imej cewe2 iklan adalah cewe2 cakep, glamor & tajir (jangan2 kiranya model iklan kali ya?) ato kalo cowo2 iklan itu agak2 melambai. Padahal mah... kagaaakkk jugaa.
Bahkan untuk yang seharusnya tau mengenai komunikasi khususnya periklanan jg ternyata masih ada yang have no idea what they are doing. Gue beberapa kali mendapat kesempatan utk ngasih pencerahan ke mahasiswa2 jurusan komunikasi ato advertising. Lebih ke pencerahan2 dari sisi praktisi. Biasanya ada tuh dosen pendamping. Hal yang paling basic kita share spt bahwa namanya komunikasi kepada konsumen, yang paling penting itu adalah pengenalan konsumen secara luar dalam untuk menjadi fondasi pengembangan strategi komunikasi. Trus beberapa dosen malah bertanya ”oh, begitu ya mbak... pengenalan konsumen itu krusial ya?”... hmhmhmmm... uh-huh!
Banyak deh cerita2 lucu lainnya.
Setelah dipikir2 iklan itu padahal hampir tiap detik dikonsumsi, tapi ternyata bisnis periklanan itu very vague & invisible di mata publik ya.

Monday, October 08, 2007

Black, Grey or White?

Akhir-akhir ini pertanyaan tersebut terus timbul di kepala gue untuk konteks relationship. I've seen some events di mana seseorang mengatakan bahwa 'sumpah, gue gak ada apa-apa koq sama dia' tapi kalo dari angle gue sebagai orang luar 'itu sih ada apa2, bencong!'.
Seorang temen gue yang udah menikah pernah deket sama orang lain dalam masa pernikahan tsb. They shared feelings & said to each other 'i have feelings for you' & 'so do i'. They met at some places (what i should call it was 'a date') and being so secretive about their relationship to each of their spouses. Tapi waktu gue tanya 'lo ada apa siy ama dese?', temen gue tsb bilang 'kagak ada apa2 kale, nek.'. 'Ah, tapi kan lo seenggaknya ada emotional relationship donks ama dia', 'iya, gue emang ada rasa ama dia begitu juga dia ke gue, tapi we never touch each other at all. Kita gak pernah ngapa2in koq'.

Dari angle gue, gue ngerasa itu 'ada apa2' from at least emotional wise. It's a Grey area bgt gak siy...

Sementara gue adalah orang yang milih 'black' or 'white' dalam hal relationship. Gue gak pernah memilih rute 'grey' (agency kale, Grey :)). Sedikit cerita dari masa lalu gue, sebelum gue ketemu suami gue & menikah, i had 3 quite serious relationship (di luar pacaran2 lainnya yg agak gk penting). Dari 3 itu, yang 2 i chose 'black' route & yg 1 the 'white' route. Kalo emang lg di rute 'black', gue bilang gue emang 'ada apa2' despite hubungan tsb berbentuk sebatas emosional ato fisikal ato dua2nya. Kalo di rute 'white', i closed all my heart & senses terhadap segala possibilities yang bisa nge-lead kepada 'ada apa2'. I commited 100% to my relationship. I don't give any slightest chance for those who tried to approach me.

I don't choose 'grey' because it would be too dangerous for me. I will be carried away to 'black' smp ke ujung yang paling berbahaya kl gue berani open that door.
I know it's fun (been there done that!), but after married, the impact that should be paid at the end will be too much for me. It just not comparable.
Feelings gak akan pernah bisa dicegah, i've had some experience about that. But what differentiates is whether you're doing anything about it or not.

You always have options in this life. Only you who can choose. So, should we choose 'black', 'white' or 'grey'?

Monday, October 01, 2007

In Memoriam: The Lively Mbak Hesti

It was a shock when we heard that Mbak Hesti passed away this morning. Remembering her, she's so lively and full of spirit in every single thing she's doing.
She's our finance staff. Orang yang tegas tapi helpful.
Whenever we asked one simple question to her, she would advise with all of her efforts, always tried to help us understanding the answer.
Like I do, she loved her children so very much. They are so nice & kind, not those brats or 'manja' typical of children.
I asked her how her children could become that kind. She replied "Aku sayang banget sama anak2ku, dek. Tapi aku ndak manjain mereka. Kalo mereka mau sesuatu, mereka harus nabung. Yang penting usahanya, nanti kalau uangnya kurang baru aku tambahin. Mereka jadi lebih menghargain yang namanya usaha dan aku juga menghargain mereka."
"Mereka ndak pernah jajan, mereka lebih suka makan di rumah, makan masakan aku."

Now, the kind children have to say goodbye to their wise mother.

Goodbye, mbak Hesti.... Semoga arwah Mbak diterima di sisi-Nya...

Tuesday, September 25, 2007

He Lives

I can't believe that he's gone
For he was just standing here moments ago
How can the world be so wrong
For taken from me a man who loves me so
Hand-shaking, earth-quaking words that I hear...

Don't cry, don't worry
For I'm alive
& I'll always be

Now run... tell all my friends
Eventhough, who doubted that I would found
Tell them, i'm not leave again
That I shall be as the morning sun

And when your faith starts to fade... just say..

I won't cry, i won't worry
Believe, that in my trouble
I won't worry
He lives inside of me

Now I'm not afraid, I'm not alone anymore
Since you came into my heart
To stay
Tell everybody...

Friday, September 01, 2006

The Dried Squid Agency, Characters


Dari Ki-Ka: Joanna, Danar, Kaylee & Nikolas

Thursday, August 31, 2006

The Dried Squid Agency, Prolog

My Real Obsession: Bikin Komik Chicklit alias Chicklit bergambar!!! (Oke lho..!)
Di 3 postingan berikut adalah prolog & 2 cuplikan skenarionya. Gambarnya?? Msh on progress... palingan selesei 4 taun lagi (lama brats... abis gue suka dilanda kemalasan ngegambarnya.. :p)

The Dried Squid Agency

Kaylee adalah seorang senior art director di sebuah agency bernama Dried Squid Agency (Ahensi Cumi Kering). Berteman akrab dengan Joanna, seorang Account Manager yang cantik & tajir.
Mantan Kaylee yang juga teman masa kecil Joanna yang bernama Danar masih menyimpan rasa kepada Kaylee.
Dimulai dengan cinta segitiga Kaylee, Danar & Joanna (yg sudah mencintai Danar dari mereka kecil) kemudian makin berkembang dengan terjadinya suatu perampokan di sebuah mini market.
Sang ketua perampok menodongkan pistol di kepala Kaylee karena dengan tanpa takut Kaylee membela seorang bapak tua yang disakiti oleh kawanan perampok itu. Sebuah impresi luar biasa timbul pada ketua perampok tsb melihat seorang gadis cantik yang begitu berani.
Siapakah sebenarnya kawanan perampok itu? Yang pasti tanpa disadari Kaylee bertemu dengan sang ketua perampok dan tanpa bisa dilawan keduanya saling jatuh cinta pada saat Kaylee kembali kepada Danar dan sudah merencanakan pernikahan.
Sebuah konflik cinta segiempat yang dengan setting dunia periklanan dan sedikit warna thriller…

The Dried Squid Agency, Cuplikan 1

A bed room. Desk clock shows 1.25 AM
Someone writes in a diary
Aku musti gimana ya, Tuhan? I loved him since we were little kids. The very first day I know him (aku masih 7 taon lhhooo..), I want him 2 be my husband. Konyol yaa??? (aku koq ganjen amat sih dari kecil J).
We grew up together. Aku cinta semua yang ada di dia. His look, his face, his laugh, his jokes, his arms, his attitude… everything…
Di hari aku kenalin dia ke sahabatku… aku gak pernah nyangka kalau itulah akhir dunia bagiku.
Dunia-ku terbalik waktu mereka akhirnya bersama.
Tapi aku begitu tololnya dan terus diperbudak oleh cinta buta ini. Mungkin ini yang mereka sebut an un-conditional love. Aku terus mencintai dia, walaupun aku gak bakal memiliki dia.
Sehingga akhirnya aku gak pernah ketemu dia selama ampir setahun.
Sekarang tiba2 dia muncul lagi.
Dan lagi2 hatiku memuntahkan rasa cinta ini. Badanku bergetar hanya mendengar suara dia.
Dan lagi-lagi… masih gak ada harapan buatku, sepertinya…
Hand freezes.
Joanna cries in silent.
Aku sayang Kay banget. Aku tau Kay masih cinta ama dia dan dia masih cinta banget ama Kay. Aku pun tau mereka b2 sayang banget ama aku.
Bukan salah mereka. Mereka gak pernah sengaja nyakitin aku selama bertahun2 ini. Mereka gak pernah tau kl aku cinta Danar…
Danar adalah hidupku & nyawaku… How can I tell him this?? Apakah Kay mau ngertiin aku??
I’m 24 years old. Dan selama 17 tahun, hanya ada 1 laki2 di dalam hatiku…
God… please help me…

Wednesday, August 30, 2006

The Dried Squid Agency, Cuplikan 2

Kaylee’s car, stops in front of a 24 hours mini mart. Keduanya turun dari mobil.
Kaylee : Mo beli apa sih?
Danar : Mmmm… mo belii… mmm… sikat gigi
Kaylee : Oo.. kamu nginep di rumah Joanna?
Danar : Iya… udah seminggu ini
Kaylee : (seminggu? Joanna gak bilang apa2…)
Danar milih2 sikat gigi & Kaylee ngeliat2 majalah
Ngantri kasir
Danar : Apa kabar kamu?
Kaylee : Baik-lah… basi amat sih kamu, nanya2 kabar mulu (giggles)
Danar : Hehehe… iya ya… you look good
Kaylee : Thanks…
Danar : Aku anter km pulang ya nanti…
Kaylee : Gak usah kali… mobil kamu gimana? Tar kamu pulang gmn?
Danar : Ahh… gampang… taksi banyak
Kaylee : Gak-lah… (mddk tertegun)
Danar looks at yang dilihat Kaylee
3 people in black mask (PIM) enters the mart
PIM 1 (pointing gun): Angkat tangan! Jangan ada yang teriak! Kalo ada yang teriak gue dorr kepalamya!!!
Cashier, Danar, Kaylee & 2 other customers angkat tangan dengan spontan. Shock & gemetar
PIM 2 : Keluarin duit lu semua!!! Yang di mesin kasir juga. Taro di meja kasir!!! Gue juga minta hp2 lu semua dikumpulin!!!
Dengan gemetar, semua yang diminta dikeluarin & ditaro di meja kasir. Kecuali satu orang bapak, hanya mengeluarkan uangnya.
PIM 1 : Ehh… bapak tua!!! HP & dompet lu mana???
Bapak : Aduuhh… saya gak punya HP..
PIM 1 : Alaaaahhh… BOHONNNGG!!! Jangan sampe gue geledah ya!!!
Bapak : Aduuhh… sa-sa-sayyaa bb-bbnr2 g-gk punya…
PIM 2 : Sini, gue geledah…
PIM 2 menggeledah si Bapak & finds sebuah HP keluaran lama. Si bapak gemetaran sekujur tubuhnya.
PIM 1 : Ini apa?? BOHONG LU YA??? UDAH BOSEN IDUP HAAHH??
Bapak, gemetaran & menangis: Tolong dik… jangan diambil… itu HP putri saya yg saya pinjam. Dia banting tulang utk bisa beli HP itu…
PIM 2 : Alahh… ngibul lu. Tadi aja ngibul… udah sini!!!
Bapak : Tolong diikk… jangan… nih ambil saja smua isi dompet saya… tapi jangan HP ini… tolonggg
PIM 1 : Isi dompet lu cuma 20 ribuuu… buat apaan???
Bapak berlutut : Tolongg (air mata bercucuran)… kasihan putri saya… toloonngg…
Para PIM ignore him
PIM 2 : Ehh, bang kasir jangan bengong aja lu!!! Keluarin smua isi mesin kasir!!
PIM 1 hands out his gun to PIM 3 (yg drtd diem aja): Gue ngambil cemilan dulu.
Bapak masih berlutut & memohon.
Few mins later, they finished collecting everything
PIM 1 : Yuk! Ehh… lu semua, kalo teriak kurang dari 2 menit dr skrg, gue balik lagi & gue tembak lu semua
Bapak : Uhuuuhuuu… tolong HP putri saya… tolong kembalikan…

Para Pim ignore & membalikkan badan menuju pintu keluar
Suddenly : HEIIII!!!
Para PIM balik ngeliat siapa yang teriak
Kaylee stands dengan gusar: Balikin HP bapak itu!!!
PIM 2 : Ehhh… ni perempuan nekat… berani amat lu???
Danar (berbisik) : Kaylee.. please… jangan…
PIM 1 : tadi lu gak denger? Yang teriak kurang dari 2 menit gue tembak!!!
Kaylee : Kalian memang setan semuanya!!! Gak punya perasaan!! Sana ambil mobil gue di depan!!! Tinggalin HP bapak ini!
Danar shivers & berkeringat dingin: Kaylee, sweetie… please…
Suddenly PIM 3 ngangkat tangannya & menempelkan ujung pistol di kepala Kaylee.
PIM 3 (dengan suara sangat dingin, tanpa emosi): Kamu berani banget ya? Ngatain kita setan? Coba… sekarang, katain kita lagi.
Kaylee stares at him dengan pandangan tajam. Both saling memandang dengan pandangan yang sama tajamnya.
Kaylee (dengan suara tenang) : Kalian semua binatang gak punya perasaan. Ayo, tembak gue. Gue gak takut. Biar lo semua dihukum mati.
Danar : GOD… tolong jangan, mas… dia gak maksud gitu… tolong…
PIM 3 ignores Danar & masih menatap Kaylee dengan tajam. Pistolnya masih menempel di kening Kaylee.
Kaylee berdiri dengan tenang, tanpa berkedip menatap mata PIM 3 dalam2.
“Klik” pemicu pistol diklik.
Danar gemetar ½ mati : toloonngg, mas… jangan… ampuni dia mas… d-di-dia g-gak maksud….
30 detik berlalu…
“klik” pemicu pistol dikembalikan ke posisi semula.
PIM 3 : Cewek luar biasa.
PIM 3 : Balikin HP bapak itu.
PIM 3 kembali menatap Kaylee & berbalik ke arah pintu keluar, diikuti kedua temannya.
Mobil mrk melesat pergi
Danar : Kaylee…
Kaylee jatuh pingsan.
Danar : KAYLEE!!!

Thursday, July 20, 2006

I Had This Simple Wish

I had this simple wish…..
A wish that I have thought these last days.
A wish that came up when we got this bed.

A very simple wish that turned into a very simple plan…
A simple plan that excites me in the middle of my hidden anxieties & worries.
A plan to make my little girl a play room.
A very nice play room.
With my hand-sewed curtain that is made from a nice & funny fabric that I was going to buy at this market.
With the same fabric, I was going to make a cover-table to cover up the ‘not-so-nice’ plastic box in her room and it’ll become her small table for her to put things.
I was also going to make a cover for her cupboard & put the little brown desk lamp on top of it.
I’m going to buy this pink Winnie the Pooh sticker and make a nice line on the right side wall.
Her colorful carpet will be arranged on the wooden floor.
And I’ll put her dolls & toys on the bed that I’ve cover up nicely with a new funny sheet that I just bought.
I couldn’t wait to see her excitement to play in her own play room.
She only has a play box, where all her toys are put into.
Wouldn’t be great if she can have a play room instead of a play box?

So, that’s my very simple plan that excites me these last days.
But I have to let go that simple plan.
Because I can’t get the bed for my little girl’s play room.
Maybe later, my baby… I will make a very nice play room for you. Maybe later….

Saturday, July 15, 2006

Everybody Hated Me


Iya, bener everybody hated me. Hehehehe... bukannya gue sejenis orang parnoan yang ngerasa dibenci semua orang. Tapi berdasarkan survey (ciaelah), setiap orang yang baru pertama kali kenalan ama gue, pasti sebel, karena berdasarkan tampang, muke gue itu judes & blaguk (Coba aja telaah dari foto narsis gue di atas ini).
Idih, padahal yaa... gue itu orang yang amat sangat ramah, tidak sombong dan jarang marah :).

Simak aja kutipan2 temen2 gue di bawah ini.
1. Martha (one of my best friends): "Pertama kali gue ngeliat lo, pengen gue gampar." (anjrit, serem banget...)
2. Arintha (friend & ex AE): "Waktu gue diinterview ama lo, gue lumayan takut karena muka lo galak banget."
3. Asta (BE), dr testimonial friendster: "Emak yang satu ini pertama kali ngeliat jutek bennneerrr..."
4. Rini & Ukiet (BE & Sr. BE): "Waktu lo presentasi pertama kali, muke lo nyebelin bangets."
5. Derry Gautama (Sr. AD): "Wueleeehh... lo itu ya, belaguk banget. Udah salamannya gak mau genggem kenceng, judes bgt lg. Udah ketemu yang kedua kali, tetep aja muka lo nyebelin."
6. LV (one of my best friends): "Waktu pertama gue ketemu lo, gue pikir pembantu dari mana nih jadi AE." (ahh... ini sih komentar kesirikan LV aja ama kekecean gue, yang sebenernya gak relevan ama topik gue kali ini) --> tapi kenapa juga gue taro kutipannya?

Dan masih banyak komen2 lainnya. Yang pasti, kalo misalnya meeting pertama kalinya dgn 3rd party, keliatan-lah kalo ekspresi mrk antara lain: takut, sebel, bales ngejudesin, dingin dll.

Padahal, perasaan gue, gue udah berusaha ramah lhoo... tapi kenapa tetep aja impresi yang keluar adalah nyebelin, judes & galak.
Secara muka, mulut gue itu, daya kelenturannya emang agak terbatas, alias berukuran kecil. Jadi gue tu emang gak bisa nyengir maksimal & kalo (perasaan gue udah senyum) tapi secara kasat mata, ternyata gak keliatan kl gue itu tersenyum. Akibatnya, gue keliatannya males senyum ato tertawa ramah. Trus ujung luar mata gue agak naek ke atas dan alis gue (yang 1/2 palsu ini) emang suka gue gambar membentuk alis marah (salah sendiri kl ini). Ditambah satu lagi, tanpa sadar, gue sering mengenyitkan kening. Jadi akhirnya secara overall akibat template muka gue yang kayak gt, keluarlah impresi2 itu... hehe...

Bukannya menyesali pemberian Tuhan yaa, cuma I wish mulut gue bisa ketawa & tersenyum lebih lebar. Jadi kesan2 1st impression itu bisa agak kurang. Bukannya apa2, kadang2 ada orang2 (karena udah dari awalnya gak simpati ama gue), jd mempersulit gue dalam bbrp hal, krn mrk jg gak punya kesempatan to get to know me further, pokonya mrk ber-act berdasarkan 1st impression itu.

Eniwei, gimana menurut lo2? impresi pertama lo2 pada waktu ketemu gue gmn? Trus kira2 ada trik make up yang bisa mengkoreksi kejudesan muka gue ini gak yaa? :)

Tuesday, April 04, 2006

Nginggris

Sekedar cerita & ngetes kemampuan gue untuk berbahasa inggris back translation bahasa Indonesia.

Beberapa hari yang lalu, gue ke suatu recording studio bareng-bareng dengan creative gue. Kebetulan si klien dateng, jd gue juga kudu hadir.
Anyway, setelah selesai recording, kita nunggu di ruang pelesiran di mana ada pool table di situ. Terdapat gerombolan agency lain sedang main di pool table tersebut. Mereka seperti-nya dari agency multi-national yang paling ngetop di sini. Isinya orang lokal semua, tapi percakapannya, inggris abesss... "endesbre-endesbre-ndesbre, was-wis-wus, was-wis-wus, endesbre-endesbre..." dengan canggihnya & gramatically correct with outstanding accent.
Trus gue mengkhayal, coba gue juga bercakap-cakap pake bahasa inggris sama temen gue di situ, tapi back translation bahasa Indonesia dengan vocab cukup banyak, tapi gak ada grammar2nya acan. Ala "don't follow mix" gituuu...

Misalnya gini:

Topic: The Announcer

Gue (G) : Most evident become announcer hard-sell not easy yes? A while ago only, hell, to exhausted I see it.
(Ternyata jadi announcer hard-sell gak gampang ya? Tadi aja, buset, ampe capek juga gue ngeliatnya.)

Temen (T) : Buckeettt, do not you think ad creative more hard execution its, occasionally sweetie hard-sell also ask mercy difficult its.
(Emberrr, jangan lo pikir iklan kreatif lebih susah eksekusinya, kadang-kadang yang hard-sell juga minta ampun susahnya.)

G : Iyes yes, poor very that announcer. Until sweat finished so-so. Where not use AC again interior there.
(Iya ya, kesian banget tuh announcer. Ampe keringetan abis gitu. Mana gak pake AC lagi di dlm situ.)

T: But it indeed after task he, grandma. We pay he, he have follow direction we.
(Tapi itu emang udah tugas dese, nek. Kita kan bayar dia, dia harus ngikutin arahan kita.)

G: Yesss, know river I. Speak-speak the announcer later after eat not yet?
Iyee, tau kali gue. Ngomong-ngomong si announcer tadi udah makan blom?

T: Wah, not know. Why? pretend care very you.
(Wah, gak tau. Napa? Sok peduli banget lo.)

G: Why youuuu... only ask only, direct prejudice sweetie no-no
(Napee sih looowww... cuma nanya aja, langsung prasangka yang nggak-nggak.)

T: Hehehehe, finished I truth estimate with the announcer, so I attitude pretend not care like that at thing... ooo... airing-aiiirrriiinnggg...
(Hehehe, abis gue sebenernya naksir ama si announcer, jadi gue belagak sok gak peduli gitu... padahal.. ooo... tayang-tayaaannggg....)

G: Mean youuuu???
(Maksut loooo???)

Kebayang gak kira-kira reaksi anak-anak agency lain itu kayak apa?

Mungkin kayak gini:
A: (dengan ketawa sarkastis) Do you listen to them? Can not believe those people. How could they be that self-confident with that utterly-messed english?? And not to forget how loud their voices!
B: Hahahaha, right! I wonder where they come from. Let me ask...
B pergi & bisik2 sama org studio, trus balik ke temennya.
B: They come from a local agency... no wonder...

Hehehe.. padahal syusye banget mak, ngomong bahasa 'don't follow mix'! Coba aja... :D

Friday, January 13, 2006

Sebuah Kebanggaan

Kalo bicara tentang 'kebanggaan', kebanggaan tentang apa? Yang pasti tentang achievement kita, tentang sesuatu yang kita miliki, tentang perubahan baik kita, tentang pengakuan orang ke kita... macem2 pokoknya. Kemudian apa 'result' dari kebanggan yang kita punya? Macem2 juga. Tergantung sifat dasar orangnya masing2, gue rasa. Ada yang menjadikan kebanggaan itu jadi suatu motivasi untuk gets better time to time, ada yang menyimpan kebanggaan itu cukup dalam hati, ada yang seneng ngomongin kebanggaan dia itu, ada yang kegirangan, ada juga yang jadi arogan.
Bicara tentang kebanggaan yang menimbulkan arogansi, terus terang jaman dahulu kala, gue pun sempet mengalami fase itu. Di kala gue masih muda banget, karir gue cukup menanjak, arogansi gue sempet keluar dengan gak sopannya. Betapa gue inget gue sering men-under estimate orang laen, dengan bangganya ngeluar2in kartu nama gue ke orang-orang dengan emang niatan pamer, betapa gue ngerasa gue udah kepinteran sehingga di bbrp waktu gue menolak untuk belajar lebih, jarang berkaca (bukan ngaca dandan lho), milih-milih temen dll-dll. Aduh, jijay pokoknya.
Padahal pada saat itu gue gak nyadar, kenapa gue bisa sampe di posisi tersebut sebenarnya? Sebenernya karena karir gue sangat dibantu oleh bos gue waktu itu yang, terus terang, cukup subjektif. I was his golden child. Maybe if I wasn't his golden child, karir gue biasa aja. Lha wong pengetahuan gue juga masih kurang banget, masih bodo koq.
Eniwei, the goodness of time (minjem istilahnya LV) bikin gue nyadar kemudian. Buat apa sebenernya arogansi gak penting itu? Apa artinya jabatan? Apa artinya prestasi kalo kita gak ngeliat esensi sebenarnya?
Sekarang gue kerja di suatu agency lokal yang mungkin gak segengsi multi-national agencies tempat gue bbrp kali bercokol. Kantor ini yang bikin gue sadar sesadar2nya. Gimana banyaknya pengetahuan maupun pengalaman yang gue blom punya. Beberapa bulan disini jauh lebih menghasilkan what we actually call 'improvement of knowledge & skills' dibandingkan dengan 5 tahun gue kerja di tempat2 sebelumnya. Betapa nggak berhaknya gue bangga sampe jadi sombong dulu itu... Masih ada langit di atas langit juga, mak, malu...
Sekarang, kadang2 gue juga msh kerasa kalo lg bangga tentang sesuatu di pekerjaan gue. Tapi Insha Allah gue akan menyikapinya dengan lebih baik. Gue akan menjadikan rasa bangga itu suatu motivasi untuk jadi orang yang lebih baik. Dalam menyikapinya, gue akan selalu ngeliat ke atas, dimana masih buaannyyaakkk orang yang jauh-jauh lebih pinter, jauuh lebih bijak, jauuhh lebih jago dll-dll.

Tapi satu rasa bangga yang gak kelar-kelar gue rasain sebenernya: Aduuuhhh... bangga jadi istri & jadi ibu! *kalo yang ini boleh dong :D*

Dedicated to all my proud friends.

Wednesday, January 04, 2006

About So-Called Friendship

LV writes, quite sad... but they are unfortunately true. Hope this writing could inspire us... Our poor-quality friendship.

Friends R'nt real; They're Juz a State of Mind
The goodness of time has shown me which can be fake and which ones can be real. For long period of time we human subconsciously always expect mere devotion and loyalty from the people we care about from people we believe that they are Friends. We started to entitle them the position 'Friends' when we got along pretty well, when we saw lots common grounds, when we had similar interests, all those good things called similar, same and common things. We then forget that it's not the limit of a friendship, only last when it is good, but when it is bad or things get bad, then it simply fades away. Having gone through some experiences I've come to think that friends are not real. Some people can be friends when they want to and simply withdraw when it's too tough.One friend always came to me talking about the same problem many times, I try to help him as best as I can, sometimes it just can be annoying when he seems doesnt wanna listen, but hey, they maybe just wanna be listened to and that's it, that's all that I could give to him,listening to him.Cause when someone comes to you to talk about their problem, it means whether u like it or not, he/she lays his/her trust on you for that moment and u just simply lend your ears and perhaps your heart as well. This is just one example, I've just seen worse cases where some friends bailed out when they see their friends is having a tough time, they could've helped but they are so bloody selfish and self-centered that they miss it and simply ignore. And yet they declared best friends forever before. On the other hand, I've also seen some cases where these people are not even friends, few of them are even strangers but they can touch each other's hearts in a nick of time. I guess what I am trying to say here is that the title "Friends" don't belong to the physical state but more to the state of mind as Friends are not real, it's only state of mind or the deeds its self.

FRIENDSHIP VS FRIENDSHIT ~
In one fine night, I was hanging out with my two good friends, Chattering from nonsense to the what-makes-sense.One of them, just call Maria, said " We hardly hang out with Jane again since she got married and have had a baby now. We seems far away now and we hardly talk to each other anymore about things..." (F.Y.I: Maria, Jane and the other girl, Diane were working in the same office). There it was, some of the remarks about Jane from Maria, which I concluded that they’re not that close anymore since Jane got married and had a baby whilst Maria and Diane are single. I was struck by Maria's comment. She was saying that she's not close to Jane anymore just because Jane's now married and had a baby. Then I related it to Jane's story long way before, saying that Maria had changed somehow, Maria kinda stopped being good friends anymore with Jane right after Jane got married. As I see it,the changes happened to both; To Jane who's simply got married and To Maria who's simply either consciously/subconsciously reacted to that. Regardless any particular reason that was for Maria, still I ponder if one can be still good friend to another though he/she has passed a phase to a different phase in his/her life.
It’s kind of bizarre if you take a really deep look at it. Ideally good friends are remain good friends no matter what but then unfortunately these days in this world there's no such thing as 'No-matter-What" anymore. We live in day-to-day choices mostly depending on what comfort us and if that’s gonna bring us good or not, it surely makes sense but when it comes to a friendship, shouldn’t we think beyond that? If one friend has gone to a different phase that creates the unwanted gap to the other friends, do they have to stop being good friends?. Shouldn’t they make efforts to understand and accept the changes and remain good friends?
Sadly, most people live in the “similar-Interest-World”. When the interest including situation and condition aren’t the same anymore then one would leave looking for the people who has similar interest or in the similar situation and condition. Differences seem set them apart and they hardly make efforts to bridge it. We all would pass different stages in life, we all gradually change from time to time, different state of mind and phases. And even after going through all that and you still can see few familiar faces along the way being loyal with your friendship regardless changes happened, GOOD FRIENDS they are indeed and the FRIENDSHIP you had definitely remain FRIENDSHIP and doesn’t have to turn out to be a friendshit.
Inspired by one of my best friend's true story

Tuesday, September 13, 2005

Pathetic Dumb Bitches


Ancurr gak kesan pertama ngeliat nama judulnya? Yang gak tau, sebenernya Pathetic Dumb Bitches (PDB) adalah nama milis bersama temen2 cw gue. It's not that we are pathetic or dumb or bitches (dikit sih dulu... kikikikik), tapi emang ini kerjaannya temen gue yg geblek brats yg jd moderator milis ini. Dia yang create 100% nama ini *agak2 memfitnah karena sbnrnya wkt mo bikin gue juga memberikan andil sehingga terciptalah milis PDB*.

Nama PDB juga jadi nama resmi geng kita (ciaelaa.. udh tuwir2 msh geng2an). Anggotanya:

1. LV --> Guru bahasa inggris yang kawin ama orang india (eh... pakistan ding). Nama suaminya Rehan Khan, salah satu petinggi di Coca-Cola. LV ini amit2 begox-nya. Hobinya ngelawak brats. Anehnya, menurut gue lawakannya cukup garing2, tapi kenapa ya orang2 suka ketawa gila2an kl dilawakin ama dia. My partner in crime dari jaman msh perawan (nyang bennneerrr) ampe skrg. Abis kawin, sempet diboyong ama lakinya ke London. Sekarang lagi usaha mo punya anak. Tapi mungkin scara kurang tokcer gituannya, jadi blom berhasil juga.

2. Martha --> Seorang party animal yang sukses di karir. Sekarang lagi single. Sempet nikah & punya anak cowok yang namanya Arya (anak cowok satu2nya di antara anak2 ibu2 PDB, sempet jadi rebutan buat dijodohin ama anak2 cw kita... tapi beda agama semua :)). Berisik brats & suka gak sadar kalo suaranya bariton. Jadi sound keberisikan yg nyampe ke orang2 sekitar ber-double2. Sempet naek bb-nya ampe 30 kilo, trus sekarang udah slim-slim-slim, bikin sirik orang2 (terutama gue).

3. Anne --> Anak kecil yang melejit karirnya karena emang pinter & determined abis. Tapi biarpun umurnya masih kecil, tapi teti-nya neekkk... Tan & sexy. Baru jatuh cinta ama mantan sobatnya (baca: skrg pacar). Salah satu dari sedikit yang blom kawin *mudah2an dlm wkt dekat ini*. Geblek juga, suka ngelawak. Used to be my partner in crime wkt gue blom kawin. Tapi scara gue udh alim brats skrg, dia berkriminil2 ama Martha. Hobinya: mempromosikan warung mie ayam kakaknya.

4. Icha --> Business woman nih. Udah punya 2 butik. Fashionable abesss. She knows fashion like she knows herself. Kawin ama orang Australi, Greg Warner (yang ketemunya krn sekantor). Baru punya baby yang luuucccuuu, namanya Michelle Nadira Warner *tayang2 banget si michy*. Anaknya polos, gak suka konflik. Kalo ngomong nginggris suka pake bahasa inggris back translation bhs indonesia dgn sedikit sentuhan logat sunda.

5. Wenny --> Si ibu sekretaris yang kawin ama mantan bos-nya, Harry Sudono. Udah punya anak balita, Carletta. Suaranya ultrasonik dgn pitch tinggi. Udah gitu kalo ngomong merepet gak brenti, jadi kadang2 udah gak kedengeran ngomong apaan saking merepet & cepetnya :D. Sempet punya agency anak jagaan (sesuai dengan profesinya semasa dulu), tapi sekarang udah gak aktif krn sibuk dgn kerjanya sekarang.

6. Tasha --> Si finalis None Jakarta. Dulu sempet melanglang buana di dunia per-agency-an di divisi creative. Tapi sekarang beralih profesi jadi PR manager di salah satu klub di Jakarta. Katanya sih bentar lagi mo kewong.

7. Muti (gue sendiri kaliii) --> Si kece brts yang bersuamikan ex team mate, Pronky Karamoy. Udah punya baby yang sekarang berumur 8 bulan, Fadiyya Miamoira Karamoy (si Ktilkotak lhooo). Sampe sekarang jadi advertising slave (kapaaan gue bisa punya butik baju hamil... :(). Sama kayak Martha, bb melejit sewaktu hamdan & skrg lagi kerja keras buat ngelangsingin lg. Biar kece kembali seperti semasa remaja...

Kita semua punya kesamaan --> Ex-anak jagaan & KECE2!

All & all, we've been friends for years. We've been through a lot, happiness, suffers, conflicts, craziness etc-etc.
Mudah2an kita semua tetep bertemen ampe kita jadi nenek2 semua & anak2 kita bakal ngetawain foto2 kita (yang pada saat kelak dijamin pasti kuno & cupuw!).

Bikin sinetron yuq... ngalahin Desperate Housewives :P

Thursday, August 11, 2005

Chubby Vs Kurus


"Kenapa ya, standard kecantikan itu musti langsing, cenderung kurus murus?" Pertanyaan menyesali itu kerap (ciiee.. 'kerap') menghantui pikiran gue di kala gue lagi semangat menghajar semangkok mie ayam bangka.
Tadinya sebelum hamdan att, gue sih gk pernah mikirin & setuju2 aja dengan standard kecantikan internasional itu. Maklum aja, dgn tinggi 167 cm, bb gue berkisar antara 50 - 52 kilo. Cukup semampai.
Trus during kehamilan, bb gue melejit naek 20 kilo. Setelah ngelahirin & masa menyusui, bb gue manteng di 63 kilo. Scara gue doyan banget makan & dengan dalih jitu 'msh nyusuin' gue makan dengan porsi & frekuensi yang cukup dahsyat, akhirnya naek lagi ke 65 kilo.
Selesai masa menyusui, baru gue mulai mikir utk mulai diet. Alesannya, karena takut juga laki gue berpaling ke cw2 yang langsing... :).
Setelah menjalani berbagai macam cara diet (dari yang gak makan nasi sama sekali, cuma makan apel seharian, gak makan malem, smp food combining), akhirnya berat gue turun ke angka 57 kilo dalam waktu sekitar 2,5 bulan.
Tapi sekarang, my appetite is going wild again. Maunya makaannn trus.
Mulailah, pikiran2 menyesali itu mulai muncul.
Gue jadi inget pernah nonton satu acara di E! yang ngebahas tentang tren ke-skinny-an Hollywood. Disitu ngebahas tentang Lindsay Lohan & Nicole Richie yang secara agak2 mendadak jadi kurus abits. Padahal trade mark mereka sebelumnya adalah 'chubby but cute'. Lindsay berdalih bahwa dia ngerasa jauh lebih sehat dengan badan kurus dia itu. In contrary, dia sekarang malah sering pingsan di tempat syuting. Trus kasus Mary-Kate Olsen dengan dugaan eating disordernya yang nyebabin dia masuk panti rehabilitasi. Trus anaknya Donatella Versace + ahli warisnya mendiang Gianni Versace yang baru berumur 18 tahun, diduga kuat mengidap anorexia. Secara masih remaja, appearance-nya udah kayak nenek2.
Blom lagi kasus2 anorexia yang kebanyakan menimpa anak2 remaja yang nggak sedikit berakhir dengan kematian.
Sayang aja, ya, standar kecantikan dunia musti menimbulkan korban.
Gue emang masih bermimpi balik ke bb gue semula. Tapi gak mo terlalu ngoyo juga. Biar chubby yang penting tetep kece!!! Horeee!!!

Monday, May 09, 2005

Si KtilKotak


Her name is Fadiyya Miamoira Karamoy, Ayakhkh is the one who got that name. Fadiyya Miamoira means The Saviour of My Love. Her official nick name is Adia which means The First Child. But she has another nick name. Only Ayakhkh & Bunda call her with that nick name. It's "KtilKotak".
What is the meaning of "Ktilkotak"?
Well.. Ayakhkh & Bunda always speak to the baby in small voices, trying to imitate the baby's language. Every morning, Bunda would call the baby who just woke from her sleep. "Good morning... si kecil, si kecil.." and somehow Bunda's tounge slipped & changing the letter 'c' to 't'. So, afterwards, the baby was called "Si Ketil" by Bunda. One day, Ayakhkh was noticing that funny nick name & he added "Kotak" which, ofcourse, means "Kocak".
Now, Adia is always called "Si Ktilkotak" by Ayakhkh & Bunda.

Thursday, May 05, 2005

The New Home


Buat yang lagi nyari rumah, kali berguna...

Finally, a new home. Setelah ampir setaun nebeng ama mertoku, my new family is finally settled in our new home.
Perjuangan lumayan abis2an buat ngebuat ni rumah layak ditinggalin.

Sebelum nikah, gue & Pronky sebenernya udah mulai cari-cari rumah. Pada saat itu, duit kita dikit banget, sehingga kita nyari rumah2 bertipe 36 - 45 di daerah Jakarta Coret Brats. Kita nyari ke Pamulang, Cibubur, Cinere dll. Kita ngumpulin banyak brosur dari rumah-rumah itu.

Suatu hari kita dapet brosur perumahan di daerah pamulang dengan disain rumah yang lucu & imut-imut. Kita liat harganya... haaa... 36 juta untuk tipe 36! Udah gitu uang mukanya yang cuma 3 jutaan, bisa dicicil bbrp kali.
Meluncurlah kita ke Pamulang, sekalian ngeliat bbrp rumah lain yang kita dapet brosurnya. Kisaran harga rumah-rumah selain rumah 36 juta itu, rata2 di atas 50 juta. Untuk kita yang waktu itu ampir bisa dibilang gak punya duit, kayaknya lumayan berat buat bayar DP-nya. Akhirnya setelah melihat sana-sini, sampe-lah kita ke komplek perumahan si rumah 36 juta. Kavling kompleks perumahan itu agak ke bawah kalo dari jalan raya. Di seberang jalan raya ada sungai. "mmm... banjir kaliii.." gitu pikir gue.
Trus pandangan Pronky melayang ke atas area kavling perumahan itu. Setelah terpaku sejenak, dia ngajak pulang. "Gak mau ahhhh!!" gitu dia cakap.
"Kenapa?" tanya gue bertanya2.
"Liat tuh ke atas" katanya.
Kwaq-waw-waw-waw!! Ternyata menara listrik bertegangan tinggi nangkring dengan asiknya di seputar perumahan itu!
Karuan gue langsung misuh2... Pantesan murahh!!

Setelah nikah, Alhamdullillah, kita dapet rejeki lumayan baik. Kayaknya mulai mampu buat beli rumah dengan ukuran yang lebih gede.
Pemburuan dimulai di daerah Cibubur. Aduuuhhh... rumah-rumahnya lutju2 bangett... + lingkungan perumahan-nya cukup oke. Ukuran tanah berkisar antara 45 - 120 m2 yang kita liat-liat.
Tapiii... setelah berkonsultasi sana-sini, cibubur itu macet-nya amit2. Kalo mo brgkt kerja & pulang, ditanggung enek.

Trus, akhirnya kita mulai nyari di daerah Bintaro. Kebetulan mertoku gue rumahnya di Bintaro. Berhubung Bintaro adalah area kediaman keluarga yang sangat berkembang, banyak banget kompleks-kompleks baru yang dibangun. Mampirlah kita ke kantor Bintaro Jaya, ketemu sales representative, liat-liat brosur, tengok sana tengok sini dll. Semuanya berakhir dengan "Aduuuhhh... rumah di Bintaro Jaya mahaaaaaaaaallllll!!!". Dengan tanah 90 m2, kisaran harga sekitar 400 jt-an. (Sedapet2nya rejeki kita pada saat itu, gak nyampe sgitu kaleeee...).

Hmmm... gimana lagi nih... Kita udah bertekad abiss buat punya rumah.. Tapi koq ada aja ya halangannya...

Suatu hari kita mampir ke rumah temen yang rumahnya juga di Bintaro (Thank's, Git!) . Dia ngusulin buat cari rumah seken aja dan nyarinya lewat Property Agent seperti Ray White, Coldwell Bankers, Raine & Horne dll. Agen-agen perumahan itu punya banyak koleksi rumah seken. Tinggal kasih tau budget yang kita punya & ukuran kira2 rumah, dicariin deh.

Mulai-lah kita mampir ke agen-agen perumahan itu. Ternyata bener kata temen gue itu. Koleksi-nya oke-oke dan harapan baru mulai terbuka (cieeeeee...). Nyari mulai dari Bintaro Jaya berbagai sektor dan luar Bintaro Jaya.

Singkat cerita, akhirnya dapet rumah yang lumayan oke dan harga terjangkau. Tanah 120 M2, Bangunan 1/2 bertingkat, lingkungan oke dan fasilitas kompleks yang cukup lengkap. Cukup bagus-lahh buat keluarga baru.
Setelah di cek bebi cek sama tukang untuk kondisi overall rumah itu, akhirnya kita putusin buat beli.
Sesudah kita beli, tu rumah kita gak apa2in dulu karena uang kita kepake dulu buat gue ngelahirin.

Bulan Februari, mulai-lah direnovasi tu rumah. Karena ternyata setelah dicek-cek dengan baik & benar, ada beberapa kondisi yang agak mengejutkan (alias: asaaalll bennneerrr). Sekedar sebagai informasi, tadinya yang ninggalin rumah itu adalah sepasang dokter. Mereka ngebangun rumah itu semasa mereka tinggalin dan renovasi yang mereka lakuin asal banget.
Misalnya gini:
  1. Tangga dibikin dari tripleks
  2. Teralis gak pake bingkai, jadi gampang dipatahin
  3. Ruangan-ruangan atas gak jelas pembagiannya
  4. Dapur ada 2
  5. Kamar pembantu di lantai 2 padahal kamar mandi-nya di bawah
  6. Dinding atas pake tripleks dan udah jebol
  7. Atep cuma pake asbes

Singkat kata: Berantakan.

Mulai-lah renovasi. Renovasi-nya memakan waktu ampir 3 bulan dan akhirnya selesai kemaren. Duit yang dikeluarin cukup bikin keliyengan, sampe2 tabungan kita yang tadinya mo buat perabotan, kekuras abis.

Kemaren tanggal 5 Mei akhirnya kita pindah ke sana diiringin selametan kecil2an dengan kondisi isi rumah ampir kosyong melompong... he2x..

Tapi gpp, ternyata tinggal di rumah sendiri memberikan sensasi yang gak bisa gue jabarin dengan kata-kata.
Insha Allah, kita bakalan betah di rumah itu.

Tuesday, May 03, 2005

The Invisible


The Invisible. Mungkin julukan itu pantes dianugerahkan ke gue pada masa sd, smp & sma. Bukannya gue sakti & gue punya kekuatan superhero seperti Violet di The Incredibles. Tapi gue sebegitu nggak keliatannya di mata temen2 gue.

Gue pd jaman itu adalah seorang tipe cewek yg kl di film2 remaja amerika adalah orang2 nerdy yang gak punya temen satupun.
Secara fisik: kurus – cungkring, kacamata tebel, ponian brats, rambut dikeriting gagal (padahal aslinya lurus brats & lepek – pengen ngembang jadi dikeriting), kulit yaaa… gk item siihhh.
Secara kelakuan & sifat: pinterrr (juara 1 terus pas sd), pendiem, kl ngomong ama orang bisa keringet dingin, diajak ngomong ama cowok, cuma bisa cengengesan gak jelas, gemeteran & mo nangis kalo ngomong di depan lebih dari 5 orang. Overall.. kesian pokonya.
I was so invisible di mata temen2 gue. Baik temen-temen sd, smp ato sma. Makanya gak ada satupun mantan temen sekolah gue yang masih kontak-kontakan ama gue secara regular.

Beberapa kejadian di kemudian hari menguatkan bahwa I WAS invisible.

Gue punya temen sekelas di kelas 3 smp yang sekarang jadi penyanyi dangdut ngetop. Sebut aja namanya Lita Natasha. Gue ketemu dia di PS. We were crossing path. Secara gak sengaja gue & dia liat2an. Pada saat gue mo buka mulut negor, dia memalingkan pandangannya, seperti gak ngenalin gue.
Kejadian ini gue pikir karena gue gak terlalu deket ama dia & kejadian ketemu itu sangat cepat, jadinya dia gak punya cukup waktu buat ngenalin gue.

Trus kejadian kedua. Gue ketemu adik kelas gue di smp yang gue sebut aja Melissa. Apparently, dia kerja di perusahaan klien gue. Gue inget banget dia karena dulu pacarnya adalah kecengan gue (udah nerdy, ngecengin pacar orang pula… kesian amat ya mak). Kali ini mustinya dia punya banyak waktu untuk seenggaknya menganggap gue familiar & akhirnya inget sama gue. Ehh… nggak dong bok… Udah 2 tahun terakhir ini gue ber-klien di sana & gue ke kantor itu ampir tiap minggu, masih gak ada tanda-tanda dia ngenalin gue… Pheww..

Kejadian ketiga, lagi2 gue punya temen artis pada jaman SMA. Skrg dia jadi presenter ngetop & bintang iklan. Ceritanya namanya Lolita Kranji. Si Lolita ini ternyata kawin ama temen kuliahnya suami gue. Suatu hari, gue & suami dateng ke kawinan temen kuliahnya yang lain. Lolita & suaminya hadir juga. Kemudian suami gue & suami dia terlibat percakapan seru, sementara gue curi2 pandang ke Lolita, mengira2 kira2 dia ngenalin gue ato nggak. Trus tiba2 suami gue keingetan bahwa dia blom ngenalin gue ke temennya.
“Eh… ini kenalin, istri gue”.
“Ohh.. halo, gue Bambang. Kenalin juga Prong, ini istri gue” kata sang suami
Si Lolita langsung dengan ramahnya menjabat tangan suami gue “Haloo… Lolita” dan… ssseeettt… menjabat tangan gue juga “Halooo… Lolita” masih dengan sumringahnya. Sempet agak speechless gue karena temen sma gue memperkenalkan dirinya lagi ke gue… waduuhhh…
Ck-ck-ck…

Gak cukup itu aja. Ada lagi kejadian yang cukup dahsyat dan mengkonfirmasi ke-invisible-an gue.
Gue punya temen sebangku sepanjang masa gue di SD. Namanya Eva. Seperti gue cerita di atas, gue pinter waktu sd. Kerjaan gue rangking 1 terus. Biar misalnya gue gak masuk berapa hari, gue selalu berhasil ngejer ketertinggalan gue dan tetep juara 1. Nahhh… temen sebangku gue ini sangat suka sekali ‘meniru’ semua jawaban tes2 & ulangan2 gue. Begitu pengennya gue punya temen, gue selalu ngijinin Eva untuk ngeliat & ‘meniru’ hasil ujian gue. Jadilah dia selalu rangking 2.
Lulus-lah kita dari SD. Sekitar 15 tahun kemudian, gue ketemu Eva di PIM. Dia udah merit sama lurah & punya 1 anak laki2. Pada saat itu gue blom kawin & masih sama pacar gue yg dulu.
Amazingly, Eva inget ama gue. Dengan excitednya Eva ngomong ke gue “Aduuuhhh!!! Linda!!! Kemana ajaaa sih loooo??? Lo ngilang gitu setelah lulus SD!!”. Gue bengong sejenak… Trus akhirnya setelah mampu berkata-kata, gue bilang “Tapii Va… gue kan satu sekolah ama lo di smp & sma..”
Akhirnya dia juga ikut bengong.