Sebuah Kebanggaan
Kalo bicara tentang 'kebanggaan', kebanggaan tentang apa? Yang pasti tentang achievement kita, tentang sesuatu yang kita miliki, tentang perubahan baik kita, tentang pengakuan orang ke kita... macem2 pokoknya. Kemudian apa 'result' dari kebanggan yang kita punya? Macem2 juga. Tergantung sifat dasar orangnya masing2, gue rasa. Ada yang menjadikan kebanggaan itu jadi suatu motivasi untuk gets better time to time, ada yang menyimpan kebanggaan itu cukup dalam hati, ada yang seneng ngomongin kebanggaan dia itu, ada yang kegirangan, ada juga yang jadi arogan.
Bicara tentang kebanggaan yang menimbulkan arogansi, terus terang jaman dahulu kala, gue pun sempet mengalami fase itu. Di kala gue masih muda banget, karir gue cukup menanjak, arogansi gue sempet keluar dengan gak sopannya. Betapa gue inget gue sering men-under estimate orang laen, dengan bangganya ngeluar2in kartu nama gue ke orang-orang dengan emang niatan pamer, betapa gue ngerasa gue udah kepinteran sehingga di bbrp waktu gue menolak untuk belajar lebih, jarang berkaca (bukan ngaca dandan lho), milih-milih temen dll-dll. Aduh, jijay pokoknya.
Padahal pada saat itu gue gak nyadar, kenapa gue bisa sampe di posisi tersebut sebenarnya? Sebenernya karena karir gue sangat dibantu oleh bos gue waktu itu yang, terus terang, cukup subjektif. I was his golden child. Maybe if I wasn't his golden child, karir gue biasa aja. Lha wong pengetahuan gue juga masih kurang banget, masih bodo koq.
Eniwei, the goodness of time (minjem istilahnya LV) bikin gue nyadar kemudian. Buat apa sebenernya arogansi gak penting itu? Apa artinya jabatan? Apa artinya prestasi kalo kita gak ngeliat esensi sebenarnya?
Sekarang gue kerja di suatu agency lokal yang mungkin gak segengsi multi-national agencies tempat gue bbrp kali bercokol. Kantor ini yang bikin gue sadar sesadar2nya. Gimana banyaknya pengetahuan maupun pengalaman yang gue blom punya. Beberapa bulan disini jauh lebih menghasilkan what we actually call 'improvement of knowledge & skills' dibandingkan dengan 5 tahun gue kerja di tempat2 sebelumnya. Betapa nggak berhaknya gue bangga sampe jadi sombong dulu itu... Masih ada langit di atas langit juga, mak, malu...
Sekarang, kadang2 gue juga msh kerasa kalo lg bangga tentang sesuatu di pekerjaan gue. Tapi Insha Allah gue akan menyikapinya dengan lebih baik. Gue akan menjadikan rasa bangga itu suatu motivasi untuk jadi orang yang lebih baik. Dalam menyikapinya, gue akan selalu ngeliat ke atas, dimana masih buaannyyaakkk orang yang jauh-jauh lebih pinter, jauuh lebih bijak, jauuhh lebih jago dll-dll.
Tapi satu rasa bangga yang gak kelar-kelar gue rasain sebenernya: Aduuuhhh... bangga jadi istri & jadi ibu! *kalo yang ini boleh dong :D*
Dedicated to all my proud friends.

1 Comments:
Baca tulisan lo, gw jg baru aja tersadar.. well, sebenernya bukan baru sih.. dah lama.. tapi ada hal baru yg bikin gw lebih sadar..
Menjadi orang yang bijaksana itu memang perlu proses.
Post a Comment
<< Home